Menelusuri Jejak Sejarah 5 Stasiun Kereta Api Bersejarah di Solo – Kota Surakarta atau Solo memiliki sistem transportasi kereta api yang penting untuk mobilitas penduduk, wisatawan, serta pengiriman barang. Di kota ini, terdapat lima stasiun kereta api utama yang memiliki sejarah mahjong dan peran penting sejak era kolonial Belanda hingga masa kini. Berikut ini adalah lima stasiun kereta api di Solo beserta fakta menarik di baliknya.

1. Stasiun Solo Balapan

Lokasi: Jalan Wolter Monginsidi, Kestalan, Banjarsari, Solo

Fakta Menarik:

  • Stasiun Tertua di Solo: Didirikan pada tahun 1873 oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), Stasiun Solo Balapan adalah stasiun kereta api tertua di Solo. Nama “Balapan” diambil dari nama kampung tempat stasiun ini berdiri.
  • Pusat Transportasi Utama: Sebagai stasiun terbesar di Solo, Solo Balapan melayani kereta api jarak jauh, seperti Argo Lawu, Argo Dwipangga, dan kereta api lainnya yang menghubungkan slot gacor Solo dengan kota-kota besar di Jawa.
  • Dikenal dari Lagu Populer: Lagu “Balapan” yang dinyanyikan oleh Didi Kempot membuat nama stasiun ini terkenal. Lagu ini sering dianggap sebagai lagu ikonik yang menggambarkan kehidupan di sekitar stasiun.

2. Stasiun Solo Jebres

Lokasi: Jalan Ledoksari, Jebres, Solo

Fakta Menarik:

  • Bangunan Bergaya Kolonial: Stasiun Solo Jebres, yang didirikan pada tahun 1884, memiliki arsitektur kolonial yang masih dipertahankan hingga kini. Bangunan utama stasiun ini memiliki ornamen khas Eropa yang memukau, membuatnya menjadi salah satu daya tarik sejarah di Solo.
  • Dekat dengan Universitas: Stasiun slot thailand ini terletak dekat dengan beberapa universitas ternama di Solo, seperti Universitas Sebelas Maret (UNS), sehingga sering digunakan oleh mahasiswa yang datang dari luar kota.
  • Sempat Menjadi Stasiun Barang: Pada awal berdirinya, Solo Jebres lebih difokuskan untuk melayani pengangkutan barang daripada penumpang. Namun, kini stasiun ini melayani kereta jarak jauh dan penumpang.

3. Stasiun Purwosari

Lokasi: Jalan Slamet Riyadi, Purwosari, Laweyan, Solo

Fakta Menarik:

  • Stasiun Tua yang Bersejarah: Didirikan pada tahun 1875, Stasiun Purwosari menjadi salah satu saksi sejarah perkembangan perkeretaapian di Jawa Tengah. Stasiun ini juga merupakan titik awal dari jalur kereta api Solo-Wonogiri yang menggunakan rel sempit.
  • Kereta Wisata Jaladara: Di stasiun ini, wisatawan dapat naik Kereta Uap Jaladara, sebuah kereta wisata dengan lokomotif uap tua yang menempuh jalur sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Jaladara sering menjadi daya tarik wisata unik bagi pengunjung yang ingin merasakan nuansa perjalanan kereta api tempo dulu.
  • Jalur Rel Ganda: Purwosari adalah salah satu stasiun yang menjadi titik percabangan untuk rel ganda antara Solo dan Yogyakarta, mempermudah pergerakan kereta api dan mengurangi kemacetan jalur.

4. Stasiun Solo Kota (Sangkrah)

Lokasi: Kelurahan Sangkrah, Pasar Kliwon, Solo

Fakta Menarik:

  • Stasiun Berukuran Kecil: Dibandingkan dengan stasiun-stasiun lain di Solo, Stasiun Solo Kota memiliki ukuran yang lebih kecil. Stasiun ini awalnya hanya melayani kereta api lokal, terutama rute Solo-Wonogiri.
  • Akses ke Pasar Tradisional: Letaknya yang dekat dengan Pasar Kliwon menjadikan stasiun ini penting bagi para pedagang dan warga sekitar yang ingin berbelanja atau berdagang.
  • Nuansa Stasiun Klasik: Solo Kota masih mempertahankan nuansa stasiun sederhana dengan bangunan bergaya klasik yang mencerminkan karakteristik stasiun era lama.

Kesimpulan

Lima stasiun kereta api di Solo ini tidak hanya berperan sebagai sarana transportasi tetapi juga menyimpan sejarah yang kaya. Dari Stasiun Solo Balapan yang ikonik hingga Stasiun Kadipiro yang kini lebih berfokus pada kereta wisata, setiap stasiun memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri. Warisan kolonial yang masih terasa dalam bangunan-bangunan ini menambah pesona kota Solo sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya di Indonesia.